Cari Blog Ini

Jumat, 13 April 2012

Kuliner Salatiga

Bakmi Djowo Semeru Mencari kuliner malam di kota Salatiga tidaklah terlalu sulit. Selain kotanya yang cukup kecil, akses jalannya kebanyakan menggunakan jalur searah, sehingga lebih memudahkan kita untuk mencari lokasi kulinernya. Salah satu kuliner malam yang bisa kita nikmati di tengah dinginnya udara kota Salatiga yaitu Bakmi Djowo Semeru Pak Agus. Lokasinya masuk ke dalam sebuah gang kecil di Jl. Semeru, meskipun masuk ke dalam gang, tapi untuk mencari lokasinya tidak sulit. Dari Jalan Semeru sebelum perempatan lampu merah Jl. Sukowati, di sana sudah ada papan petunjuk yang mengarahkan ke Bakmi Djowo Semeru Pak Agus. Dengan menempati sebuah bangunan yang semuanya terbuat dari kayu, Bakmi Djowo Semeru Pak Agus mulai buka jam 12 siang sampai jam 10 malam setiap hari kecuali Minggu. Pada awalnya warung ini hanya buka mulai jam 5 sore, namun mulai 2 minggu terakhir ini buka lebih awal. Sedangkan usaha ini sendiri sudah dirintis sekitar tahun 2003 oleh Pak Agus. Meskipun namanya bakmi djowo, tapi ada juga beberapa menu lain yang tersedia. Misalnya saja nasi goreng/ godhog, magelangan goreng/ godhog, cap jay, tongseng dan juga ayam goreng. Soto Ayam Esto Hari ke-3 perjalanan wisata kuliner Jawa Tengah, tim wisatakuliner.com berada di Kota Salatiga yang udaranya agak dingin meskipun di siang hari. Setelah menikmati beberapa kuliner sebelumnya, untuk selanjutnya kami berencana untuk menikmati Soto Ayam Esto. Sekitar jam 1 kurang beberapa menit kami sudah sampai di Jl. Langensuko, Salatiga yang merupakan lokasi dari rumah makan Soto Ayam Kampung ESTO. Untuk mencari lokasinya cukup mudah, karena lokasinya berada di belakang Grand Wahid Hotel, Salatiga. Rumah makan ini tidak terlalu besar dan sederhana, tidak ada lahan parkir yang cukup luas, sehingga kendaraan roda empat terparkir di tepi jalan yang tidak terlalu lebar. Setelah memarkir kendaraan, kami pun berjalan menuju lokasinya, disana hanya terlihat sebuah mobil merah yang terparkir di tepi jalan. Suasananya juga tidak terlalu ramai, tempat untuk meracik soto ada di depan, samping pintu masuk. Sebuah meja dan tempat pemanasan kuah di dalam kuali lengkap dengan pembakarannya yang masih menggunakan arang. Hampir tidak ada kesibukan di tempat ini, semuanya terlihat rapi, bersih dan sedikit makanan yang tersisa. Setelah bertanya pada salah satu karyawannya, ternyata sotonya sudah habis dan mau tutup. Ada sebersit rasa kecewa yang menghampiri, namun setelah berbicara dengan Bu Misyanto sebagai pemiliknya, akhirnya kami masih bisa menikmati soto ayam esto meskipun hanya tinggal satu porsi. Berdasarkan informasi yang kami terima, usaha ini sudah dirintis sekitar tahun 1953 dengan menempati sebuah warung kecil yang sederhana di depan Garasi ESTO. Namun sekitar 1 tahun yang lalu pindah ke Jl. Langensuko No. 4 hingga sekarang, sehingga soto ini dikenal dengan nama soto ayam ESTO. Dalam waktu singkat seporsi soto sudah tersaji di atas meja. Semangkuk soto terdiri dari nasi putih yang ditambahi taoge di atasnya, irisan daun seledri dan suwiran daging ayam kampung. Kuah santannya yang ringan berwarna putih agak kekuningan dengan taburan bawang goreng di atasnya. Rasa bumbunya ringan, segar, gurih, aroma kuah santannya khas dan daging ayamnya juga empuk. Biasanya soto ini disajikan dengan taburan remahan kerupuk karak yang renyah dan gurih. Selain itu, juga ada sate telur puyuh, sate kerang, sate usus, bakwan jagung, dan tempe goreng yang di atasnya terdapat beberapa ekor udang. Seperti yang Saya tulis sebelumnya, rasanya sedikit kecewa karena kami datang terlalu siang, jadi belum bisa menikmati berbagai side dish yang biasanya disajikan. Mungkin lain waktu kalau kami singgah lagi ke Selatiga, pasti kami akan datang lebih pagi lagi. Biasanya rumah makan ini sudah buka dari jam 6 pagi sampai jam 1 siang. Tapi saran Saya, sebaiknya datang sebelum jam 12 siang, agar tidak kehabisan seperti yang kami alami sekarang. Ronde Jago Sampai siang ini, Saya bersama tim wisatakuliner.com masih berada di Kota Salatiga. Selain untuk berburu kulinernya, kami sangat penasaran dengan Ronde Jago Salatiga yang ada di Jl. Jenderal Sudirman No. 9 (Pasar Raya 2). Pada malam sebelumnya, kami sudah datang ke lokasi tapi menurut salah seorang yang masih ada di daerah itu, wedang ronde yang kami maksud baru saja tutup beberapa menit yang lalu. Dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi besok pada siang hari supaya tidak kecewa lagi, karena ronde ini sudah buka dari jam 2 siang. Hari itu, kami sudah ada di Jalan Jenderal Sudirman sejak jam 1 siang untuk menikmati sate suruh terlebih dahulu. Kemudian jam 2 lebih 15 menit salah satu tim pergi ke Ronde Jago yang tepat berada di belakang sate suruh. Ternyata setelah beberapa menit dia kembali dengan muka yang agak kecewa, wedang rondenya belum buka. Setelah dilihat-lihat, ternyata ada juga yang bernasib sama seperti kami, menunggu ronde jago membuka warungnya. Merasa sudah agak bosan, Saya pun pergi ke dalam pasar loak yang ada di dalam untuk melihat-lihat. Setelah beberapa menit, Saya kembali bergabung bersama tim. Dan akhirnya setelah beberapa menit berlalu, ternyata warung yang kami tunggu-tunggu dari tadi mulai melayani pengunjungnya. Untuk aksesnya sendiri cukup mudah, dari Polsek Pasar Raya 2 masuk saja ke dalam gang kecil yang berada di antara Polsek dan Sate Sapi Suruh. Dari situ sudah ada petunjuk yang menunjukkan lokasinya, meskipun tidak ada papan petunjuknya kita juga tidak akan tersesat. Karena tempatnya hanya berjarak beberapa meter saja dari gang itu. Setelah masuk gang, belok kanan dan ronde jago tepat berada di sebelah kiri dengan neon box yang cukup jelas. Bangunannya terlihat sudah cukup tua, suasananya cukup tenang dan hening. Meski baru dibuka, tapi di dalam sudah terlihat beberapa orang yang sedang menikmati ronde dan sebagian sedang menunggu pesanan. Ada cukup banyak kalender yang dipajang sepanjang putaran dindingnya yang putih khas warung makan kuno. Ruangan yang tidak terlalu besar itu di-set dengan tatanan meja di setiap arah dengan penjualnya berada di tengah-tengah. Sambil menunggu giliran, kita bisa menikmati beberapa camilan yang sudah tersedia di atas meja, ada gorengan, tape ketan hijau, bipang, atau beberapa jenis camilan di dalam toples-toples tua yang berjajar rapi di atas meja. Setelah mendapat giliran, masing-masing dari kami memesan wedang ronde sekoteng dan wedang campur (ronde+kacang). Dengan cekatan dan terampil, beberapa mug kecil ditangkupkan ke dalam genggaman. Kemudian diisi dengan bahan-bahan wedang, seperti agar-agar, kolang-kaling, pacar cina/ sagu mutiara, kacang, ronde, irisan kulit jeruk (kering), irisan manisan tangkeh kering(dari buah bligo). Kemudian dimasukkan ke dalam mangkuk kecil yang sudah disiapkan sebelumnya, dan terakhir dituangi dengan kuah dan taburan rumput laut kering. Wedang ronde campur pesanan Saya pun siap dinikmati, kacangnya lembut, rondenya empuk dan tidak kenyal seperti umumnya. Jahenya terasa banget, ada rasa kres kres dari irisan jeruk dan manisan tangkeh kering. Belum habis menikmati wedangnya, tapi tubuh sudah mulai terasa hangat karena bahan-bahan yang terkandung dalam wedang ronde. Setelah melihat karyawannya tidak terlalu sibuk lagi, Saya pun mencuri waktunya untuk ngobrol sebentar. Sebenarnya Saya ingin bertemu langsung dengan Ibu Ivon atau Pak Joni sebagai pemiliknya, tapi sayang mereka tidak ada ditempat. Dari obrolan kami yang cukup singkat itu, ternyata usaha ini sudah dirintis sekitar tahun 1964. Karena kondisi bangsa Indonesia yang pada saat itu masih kurang stabil, untuk beberapa waktu usaha ini dihentikan. Kemudian baru dibuka kembali sekitar tahun 1968 hingga sekarang ini. Selain wedang ronde, ada juga batagor Bandung dan juga mie kopyok yang bisa kita nikmati dari jam 2 siang sampai jam 9 malam setiap hari. Sate Sapi Suruh Sate ayam dan sate kambing mungkin sering sering kita jumpai dan bisa didapatkan dengan mudah, tapi bagaimana dengan sate sapi? Mungkin jarang dan sedikit sulit untuk mendapatkannya. Untuk kali ini, Saya bersama tim wisatakuliner.com singgah ke Sate Suruh di Kota Salatiga. Sebenarnya nama warung ini adalah Sate Sapi Suruh dan Bakso, tapi kebanyakan orang menyebutnya dengan nama Sate Suruh. Kami sampai dilokasi pada jam satu siang, karena kami juga berencana untuk mampir ke wedang ronde yang baru buka mulai jam 2 dan tempatnya tepat berada di belakangnya. Untuk lokasinya sendiri, Sate Sapi Suruh berada di Jl. Jenderal Sudirman (Setelah Hotel Quaility) tepat di sebelah kanan Polsek Pasar Raya 2 (kalau kita menghadap ke arah polsek). Warungnya cukup besar dan ramai, tapi kami bisa mendapatkan tempat duduk cukup mudah. Kepulan asap yang sesekali lewat membawa aroma sate yang menggoda, membuat perut semakin lapar. Sambil menunggu pesanan disajikan, sekarang waktunya untuk mencari sang pemilik. Tapi sayang, waktu itu Bu Ngatmiati sedang tidak ada dilokasi, tapi untungnya ada Pak Harkin (suami dari Ibu Ngatmiati). Sambil terus memotong ketupat, Pak Harkin mulai menceritakan sedikit kisah tentang usaha sate sapi suruh ini. Pada awalnya sate sapi ini dirintis sekitar tahun 1962, kemudian pada tahun 1987-an usaha ini dilanjutkan oleh Ibu Ngatmiati bersama suami dan anaknya. Sedangkan kata suruh merupakan nama sebuah daerah dimana usaha sate sapi ini dimulai, sehingga dikenal dengan nama sate suruh atau sate sapi suruh hingga sekarang. Selesai berbincang dengan Pak Harkin, ternyata seporsi sate plus ketupat sudah tersaji di atas meja lengkap dengan minumannya. Potongan ketupat ditata di atas piring yang beralaskan daun pisang, 10 tusuk sate sudah diletakkan di atasnya beserta bumbu kacangnya. Saat gigitan pertama, hemm …. dagingnya empuk dan tidak alot meski ukurannya cukup besar, bau sapinya juga tidak tercium sama sekali. Setelah gigitan berikutnya, saya langsung terdiam sejenak, ternyata dapat gajih (lemak ) yang juga tidak alot. Setiap satu tusuk sate terdiri dari tiga potong, 2 daging sapi dan sepotong lemak yang diselipkan di tengahnya. Kalau untuk bumbu kacangnya masih agak kasar dan ada sedikit rasa manis yang khas masakan Jawa Tengahan. Kalau kurang suka dengan taste makanan yang manis bisa menambahkan sambal. Yang menambah santap siang ini menjadi lebih istimewa, ketupatnya benar-benar halus dan lembut. Selain menyajikan sate sapi, juga ada menu sate ayam, bakso, mie ayam dan mie ayam bakso. Sedangkan untuk minumannya, ada beras kencur, berbagai macam jus (alpukat, apel, strawberry, mangga, wortel, jambu) dan minuman khas warung makan pada umumnya. Untuk dapat menikmati sate sapi suruh, kita cukup mengeluarkan kocek kurang dari 18ribu rupiah. Kita bisa singgah ke warung ini setiap hari mulai dari jam setengah 10 siang sampai jam setengah 10 malam. Hingga kini, sate sapi suruh memiliki cabang yang berada di Jl. Solo Km 6, Jogjakarta.

1 komentar:

  1. Kritik Dan Saran

    i i i
    i i i
    i i i
    v v v

    tulis dibawah komentarku

    BalasHapus